Dari Kampus ke Dunia Nyata : Integritas, Kompetensi, dan Keberanian Mengabdi
Oleh : Kusfiardi, S.E., M.M. (Analis Ekonomi Politik dan Praktisi Kebijakan Publik, dengan fokus pada kebijakan fiskal dan moneter, tata kelola sektor keuangan, serta keberlanjutan keuangan negara)
Wisuda bukan sekadar tentang toga dan ijazah. Di baliknya ada tahun – tahun belajar, tugas, ujian, penelitian, kegagalan, perjuangan, serta doa dan pengorbanan orang tua. Karena itu, Wisuda bukan hanya milik Saudara. Ini juga buah dari kesabaran keluarga.
Dulu kita mungkin membayangkan bahwa setelah lulus, jalan hidup akan menjadi jelas: bekerja di mana, menjadi apa, dan mencapai posisi apa. Tetapi kehidupan tidak selalu berjalan sesuai peta yang kita buat. Kita tidak harus memiliki peta yang sempurna. Tetapi kita harus memiliki kompas yang benar. Kompas itu adalah integritas, kompetensi, dan keberanian untuk mengabdi.
Pertama: Integritas
Di dunia profesional, kemampuan akademik saja tidak cukup. Saudara mungkin memiliki IPK yang baik, gelar, kemampuan teknologi, data, dan analisis. Tetapi pada akhirnya ada pertanyaan yang paling mendasar:
Apakah kita dapat dipercaya?
Kompetensi membuat seseorang mampu melakukan sesuatu. Integritas membuat seseorang layak dipercaya untuk melakukannya. Karier Saudara kelak akan dipenuhi pilihan. Tidak semuanya hitam dan putih. Akan ada wilayah abu-abu, kepentingan pribadi, tekanan organisasi, dan godaan keuntungan jangka pendek. Di situlah integritas diuji.
Integritas bukan tentang bagaimana kita bersikap ketika ada yang melihat. Integritas terlihat ketika tidak ada yang melihat. Karena itu, jangan hanya membawa ijazah dari UII. Bawalah nilai. Jadilah orang yang ketika namanya disebut, orang lain merasa aman memberikan kepercayaan.
Kedua: Kompetensi
Gelar hari ini bukan tanda bahwa belajar telah selesai. Gelar adalah tanda bahwa Saudara siap memasuki tahap belajar yang baru. Dunia berubah cepat. Teknologi, cara bekerja, model bisnis, regulasi, dan ekonomi terus berubah. Maka jangan pernah berhenti belajar.
Bacalah lebih banyak. Dengarkan lebih banyak. Berdiskusilah dengan mereka yang berbeda pandangan. Dan berpikirlah kritis. Jangan menerima informasi hanya karena datang dari orang yang kita percaya. Lihat datanya. Pahami konteksnya. Uji argumentasinya. Tanyakan dampaknya.
Sebagai lulusan Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Saudara terbiasa membaca angka. Tetapi ingat, angka tidak pernah berdiri sendiri. Di balik angka inflasi ada keluarga yang mengatur pengeluaran. Di balik angka pengangguran ada seseorang yang sedang mencari pekerjaan. Di balik pertumbuhan ekonomi ada kehidupan jutaan manusia.Maka jangan hanya belajar membaca angka. Belajarlah membaca realitas di balik angka. Di situlah ilmu menjadi bermakna.
Ketiga: Keberanian untuk Mengabdi
Di UII kita mengenal Catur Dharma: pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan dakwah Islamiyah.
Catur Dharma bukan sekadar empat kegiatan. Ia adalah cara kita memandang ilmu. Ilmu tidak berhenti di ruang kelas. Ilmu harus menemukan jalannya menuju kehidupan dan membawa kebaikan. Dan pengabdian bukan hanya milik mereka yang bekerja di lembaga sosial atau pemerintahan.
Akuntan dapat mengabdi. Pengusaha dapat mengabdi. Bankir, konsultan, birokrat, akademisi, maupun profesional di perusahaan swasta dapat mengabdi. Pengabdian bukan terutama soal di mana kita bekerja. Pengabdian adalah bagaimana kita menjalankan pekerjaan itu. Apakah pekerjaan kita menciptakan nilai? Apakah keputusan kita adil? Apakah ilmu kita memberi manfaat? Apakah keberhasilan kita membuka kesempatan bagi orang lain? Bawalah pertanyaan-pertanyaan itu dalam perjalanan Saudara.
Jangan takut menempuh jalan yang berbeda setelah wisuda, jalan Saudara mungkin berbeda-beda. Ada yang langsung bekerja. Ada yang melanjutkan pendidikan. Ada yang membangun usaha. Ada yang harus menunggu lebih lama. Ada yang jalannya cepat, ada yang berliku. Jangan mengukur hidup Saudara dengan ukuran kehidupan orang lain. Setiap orang memiliki waktunya.

Teruslah belajar, teruslah bertumbuh, dan teruslah bergerak menuju sesuatu yang baik. Jangan takut jika suatu hari perjalanan Saudara berubah arah. Yang penting, jangan kehilangan prinsip ketika arah itu berubah.
Menjadi Alumni UII, Tunjukkan karya dan perilaku kita bahwa pendidikan yang kita terima di sini memiliki makna. Jadilah insan yang berilmu. Berakhlak. Kompeten. Dan membawa manfaat. Bawalah ilmu. Bawalah integritas. Bawalah keberanian. Dan bawalah kepedulian kepada sesama.
- Jika memperoleh jabatan, ingat tanggung jawab.
- Jika memperoleh kekayaan, ingat untuk berbagi.
- Jika memperoleh pengetahuan, jangan berhenti belajar.
- Jika memperoleh kekuasaan, ingat amanah.
Dan jika memperoleh keberhasilan, jangan lupa kepada mereka yang membantu Saudara sampai di titik ini.
Pada akhirnya, keberhasilan hidup bukan hanya tentang seberapa tinggi kita mencapai sesuatu, tetapi seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan. Maka ketika melangkah keluar dari kampus ini, jangan hanya bertanya:
- Apa yang bisa saya dapatkan dari dunia?
- Apa yang bisa saya berikan kepada dunia?
Ketika ilmu bertemu integritas, kompetensi bertemu kepedulian, dan keberanian bertemu nilai-nilai Islam, profesi apa pun yang Saudara pilih dapat menjadi jalan pengabdian.
*diringkas dan diambil dari naskah sambutan alumni, saat pelaksanaan wisuda UII, Sabtu, 23 Agustus 2026*




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!