UII, Titik Awal Pengabdian

Oleh: Dr. Tri Widodo W. Utomo, S.H., M.A. (Deputi Penyelenggaraan Pengembangan Kapasitas ASN LAN RI – Alumni FH UII Angkatan 1986)

Dengan rasa syukur dan kebanggaan, saya menuliskan refleksi ini sebagai bagian dari keluarga besar alumni Universitas Islam Indonesia. Momen wisuda selalu menghadirkan perasaan haru yang khas bukan semata karena toga dan ijazah, melainkan karena ia menandai sebuah peralihan penting dalam perjalanan hidup. Bagi para wisudawan, hari kelulusan bukanlah akhir dari perjuangan akademik, melainkan awal dari fase pengabdian yang sesungguhnya.

Wisuda adalah puncak dari proses panjang yang penuh ketekunan. Di balik senyum hari ini, tersimpan cerita tentang begadang, revisi yang tak terhitung, doa orang tua, serta perjuangan hidup yang dijalani dengan sabar. Semua itu adalah bagian dari proses pembentukan karakter. Maka, kelulusan tidak hanya melahirkan sarjana, tetapi juga manusia yang ditempa untuk menghadapi dunia nyata dengan lebih matang.

Mulai hari ini, para lulusan akan memasuki ruang kehidupan yang berbeda dari dunia kampus. Dunia kerja dan pengabdian menuntut kedisiplinan, ketangguhan mental, dan kemampuan beradaptasi. Tidak lagi ada jadwal kuliah yang teratur, yang ada adalah tanggung jawab, target, dan tantangan nyata. Namun, justru di situlah nilai pendidikan UII menemukan relevansinya.

Universitas Islam Indonesia tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai dan karakter. Di kampus ini, mahasiswa dibentuk bukan sekadar menjadi pribadi yang cerdas, tetapi juga berintegritas, humanis, dan berkeadaban. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal utama yang akan membedakan alumni UII di tengah dunia yang semakin kompetitif dan penuh godaan kompromi moral.

Sebagai alumni, kita adalah representasi dari wajah UII di ruang publik. Alumni UII tersebar di berbagai bidang dan penjuru negeri menjadi hakim, akademisi, pengusaha, birokrat, aktivis, dan profesional di banyak sektor strategis. Di mana pun berada, alumni UII diharapkan hadir sebagai pelita: membawa nilai keislaman yang moderat, kecerdasan yang mencerahkan, serta kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat.

Tantangan zaman hari ini tidaklah sederhana. Dunia bergerak cepat, penuh kompetisi, dan sering kali menormalisasi jalan pintas. Dalam situasi seperti ini, kejujuran, amanah, dan profesionalisme justru menjadi nilai yang langka dan karena itu, menjadi kekuatan. Alumni UII ditantang untuk tetap berdiri teguh pada prinsip, sekaligus adaptif menghadapi perubahan.

Ikatan Alumni UII hadir sebagai rumah besar bagi seluruh lulusan. Rumah untuk berbagi, bertumbuh, dan saling menguatkan lintas generasi. Dalam dunia yang menuntut kolaborasi, jejaring alumni bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan strategis. Karena kesuksesan tidak selalu dibangun sendirian, tetapi melalui kebersamaan dan solidaritas.

Pada akhirnya, menjadi alumni UII berarti memikul tanggung jawab moral untuk terus menebar manfaat. Kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari capaian pribadi, tetapi dari sejauh mana kehadiran kita membawa kebaikan bagi lingkungan sekitar bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.

Wisuda menandai satu hal penting: bahwa perjalanan telah berubah bentuk. Dari ruang kelas menuju ruang pengabdian. Dari belajar teori menuju praktik kehidupan. Dan di titik awal inilah, UII berharap para alumninya melangkah dengan keyakinan, integritas, dan semangat memberi makna.

*Diringkas dan diolah dari naskah sambutan perwakilan Ikatan Alumni UII pada Wisuda Sarjana Universitas Islam Indonesia, Minggu, 29 Juni 2025.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *