Karakter Penuntun di Tengah Ujian Kepemimpinan

Oleh: Melky Aliandri, S.T., MBA. (Director PT. Bakrie Swasakti Utama & ⁠⁠Director PT Bakrieland Development Tbk, dll) – Alumni FTSP UII Angkatan 1995

Wisuda adalah penanda bahwa satu fase kehidupan ditutup dan fase lain yang lebih luas dibuka. Di titik inilah ilmu berhenti menjadi milik pribadi dan mulai berubah menjadi amanah. Saya berdiri di hadapan para wisudawan dan wisudawati Universitas Islam Indonesia bukan untuk merayakan keberhasilan semata, tetapi untuk mengingatkan bahwa tanggung jawab sesungguhnya justru dimulai setelah toga dilepaskan.

Perjalanan yang membawa saya kembali ke mimbar ini berawal pada tahun 1995 sebagai mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UII. Kampus ini bukan hanya tempat belajar tentang angka, struktur, dan perencanaan, tetapi ruang pembentukan karakter. Di sinilah saya belajar bahwa mimpi besar tidak lahir dari jalan yang selalu lurus. Keraguan, kegagalan, dan rasa ingin menyerah adalah bagian dari proses. Namun UII menanamkan keyakinan yang sederhana tetapi menentukan, bahwa iman yang dijaga dan ikhtiar yang konsisten akan selalu menemukan jalannya.

Langkah demi langkah kemudian membawa saya ke dunia profesional, hingga hari ini dipercaya mengemban amanah di berbagai entitas usaha. Posisi dan jabatan mungkin terlihat sebagai puncak pencapaian, tetapi sejatinya semua itu adalah ujian nilai. Di setiap keputusan, yang paling menentukan bukan seberapa besar kewenangan yang dimiliki, melainkan seberapa kuat integritas dijaga. Gelar akademik dapat membuka pintu, tetapi hanya karakter yang mampu menjaga seseorang tetap lurus ketika berada di dalamnya.

Di titik itulah peran almamater menjadi sangat terasa. Nilai tentang kejujuran, tanggung jawab, dan keberpihakan pada kebenaran bukan lahir secara tiba-tiba. Semua berakar dari pendidikan yang memadukan ilmu dan iman. UII tidak hanya membekali pengetahuan teknis, tetapi juga kompas moral, agar di mana pun langkah diambil, arah pulang tetap jelas.

Universitas Islam Indonesia sendiri lahir dari sejarah bangsa yang sarat idealisme. Didirikan oleh tokoh-tokoh yang memandang ilmu sebagai alat pengabdian, bukan sekadar alat mobilitas sosial. Pesan para pendiri itu tetap relevan hingga hari ini. Ilmu setinggi apa pun tidak boleh menjauhkan manusia dari Tuhannya. Kecerdasan tidak boleh menghilangkan keberpihakan pada yang lemah. Dan kepemimpinan sejati bukan tentang berdiri paling tinggi, melainkan tentang kesiapan memikul amanah paling berat.

Pesan itu kini berada di tangan para wisudawan. Dunia yang akan dihadapi tidak selalu adil. Persaingan akan keras, godaan akan nyata, dan integritas akan diuji pada momen-momen yang sunyi. Pada saat seperti itulah nilai ke UII an harus hadir sebagai penopang. Kerja keras adalah keharusan, tetapi kejujuran adalah kehormatan. Jabatan dapat diraih dengan usaha, namun kepercayaan hanya lahir dari karakter yang konsisten.

Perjalanan setelah wisuda juga tidak seharusnya ditempuh sendirian. Ikatan Alumni Universitas Islam Indonesia bukan sekadar organisasi, melainkan ruang silaturahmi dan kolaborasi lintas generasi. Di sanalah nilai-nilai UII terus hidup dan bertumbuh. Dari jejaring itulah sering lahir peluang, bukan karena ambisi yang dikejar, tetapi karena niat baik, kesamaan nilai, dan kepercayaan yang dibangun perlahan.

Akhirnya, wisuda ini adalah undangan untuk melangkah lebih jauh dengan kesadaran penuh. Iman menjadi kompas, ilmu menjadi bekal, dan akhlak menjadi mahkota. Dengan fondasi itu, para lulusan UII diharapkan tidak hanya menjadi profesional yang kompeten, tetapi juga pemimpin yang berkarakter, yang kehadirannya membawa manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan masa depan yang lebih bermakna.

*diringkas dan diambil dari naskah sambutan alumni, saat pelaksanaan wisuda UII, Minggu, 28 Desember 2025.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *