Sarjana yang Berkarakter di Tengah Dunia VUCA

Oleh : Bindut Agus Dewanto, SH, MM, CRGP (General Manager Departemen Legal PT Adhi Karya (Persero) Tbk & Komisaris PT Adhi Persada Gedung – Alumni FH UII Angkatan 1985)

Gelar kesarjanaan yang disematkan kepada para wisudawan Universitas Islam Indonesia bukan sekadar pengakuan atas capaian akademik, melainkan amanah untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat, bangsa, dan peradaban dunia. Menyandang gelar sarjana berarti siap memikul tanggung jawab yang lebih besar, tidak hanya sebagai insan terdidik, tetapi juga sebagai pribadi yang berkarakter.

Universitas Islam Indonesia, sebagai institusi pendidikan unggul dengan ekosistem kampus yang Islami, telah menanamkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional. Lingkungan kampus yang hijau, sistem pendidikan yang terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman, serta komitmen pada tridharma perguruan tinggi menjadikan UII bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang pembentukan karakter. Dari sinilah diharapkan lahir cendekiawan Muslim yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga beretika dan berakhlak.

Karakter utama yang perlu dipegang oleh lulusan UII adalah akhlak Islami. Akhlak tidak hanya dipahami sebagai kesopanan, tetapi sebagai perwujudan nilai-nilai Islam dalam sikap, ucapan, dan tindakan sehari-hari. Akhlakul karimah menjadi fondasi dalam berkiprah di berbagai bidang kehidupan, apa pun profesi yang dijalani.

Selain akhlak, integritas menjadi pilar penting. Integritas adalah keselarasan antara nilai, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang dijaga secara konsisten. Pribadi berintegritas adalah pribadi yang jujur, dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan memiliki orientasi hidup yang jelas, mengetahui apa yang dilakukan, mengapa dilakukan, dan untuk tujuan apa.

Di tengah dunia yang semakin dinamis dan penuh ketidakpastian (VUCA: Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), lulusan UII juga dituntut untuk adaptif dan militan. Adaptif berarti mampu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan sosial dan profesional, sementara militan dimaknai sebagai keteguhan hati, konsistensi dalam integritas, dan komitmen untuk menyelesaikan amanah dengan sepenuh tanggung jawab, bekerja bukan karena perintah, tetapi karena kesadaran.

Karakter berikutnya yang ditekankan adalah bersahaja. Sikap rendah hati membuka ruang untuk mendengar, bekerja sama, dan bertumbuh bersama tanpa memandang latar belakang pendidikan maupun status sosial. Prestasi dan keunggulan patut disyukuri, namun harus ditransformasikan menjadi kontribusi nyata bagi kehidupan kolektif. Kesombongan justru menjadi penghalang utama dalam pengabdian kepada masyarakat dan bangsa.

Dengan bekal akademik yang unggul dan karakter yang kuat, para lulusan UII diharapkan mampu melanjutkan jejak para alumni terdahulu yang telah berkiprah dan berbakti bagi negeri di berbagai bidang strategis. Ikatan Alumni UII pun hadir sebagai rumah besar untuk mempererat silaturahmi, mengembangkan potensi, serta memperluas kontribusi alumni bagi UII, masyarakat, dan Indonesia.

Pada akhirnya, dunia nyata telah menanti. Tidak ada lagi privilege sebagai mahasiswa, yang ada adalah tanggung jawab dan pilihan hidup. Namun dengan karakter UII yang berakhlak, berintegritas, adaptif, militan, dan bersahaja, para sarjana diyakini mampu menghadapi tantangan zaman dan menjadi insan yang unggul di dunia, serta selamat di akhirat.

*Diringkas dan diolah dari Orasi Wakil Alumni UII pada Wisuda Universitas Islam Indonesia Periode I Tahun Akademik 2025/2026, 26 Oktober 2025.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *