Yang Dunia Peduli: Bukan Gelar, Tapi Dampak
Oleh : Dita Anggara Kusuma, dr., Sp,OT, SubSp. Onk. Ort.R. (K) (Staff Pengajar program fellowship Onkologi Orthopaedi dan rekonstruksi, Kolegium Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia)
Saya adalah seorang dokter orthopaedi onkologi. Bedah Orthopaedi yang mengkhususkan diri di bidang tumor tulang dan jaringan sekitar tulang. Hampir setiap hari,saya bertemu pasien yang kebanyakan adalah anak-anak dan keluarga yang hidupnya berubah dalam sekejap karena mengalami kanker. Hidup mereka yang sebelumnya penuh dengan cita-cita dan harapan, harus berubah karena didiagnosa mengalami kanker. Dan di ruang praktek tersebut, saya belajar sesuatu yang tidak diajarkan di bangku kuliah “Hidup tidak pernah menunggu kita siap”
Perjalanan saya dimulai dari sebuah kegagalan. Saat itu setelah saya lulus SMA pada tahun 2003, saya masuk ke jurusan teknik kimia di sebuah universitas dan gagal untuk mencapai IP 1 karena saya sempat bekerja sambilan sehingga tidak konsentrasi dan harus meninggalkan kampus tersebut lebih cepat. Pada fase ini alhamdulillah saya sangat bersyukur memiliki orang tua yang sangat suportif dan tidak judgemental, beliau berdua menugaskan saya untuk melakukan pencarian secara mandiri tentang kampus dan jurusan apa yang akan saya tekuni berikutnya dengan 1 syarat “SAYA HARUS KULIAH DAN LULUS”. Singkat cerita, saya melakukan riset mandiri tentang jurusan dan universitas apa yg ingin saya tekuni selama 3 bulan dan akhirnya memutuskan untuk mengambil jurusan KEDOKTERAN di Universitas Islam Indonesia. Alasannya 1 karena ada TUTORIAL. Untuk teman-teman yang belum tau, tutorial itu adalah ajang diskusi sekitar 10 mahasiswa yang di moderatori oleh 1 dosen dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Konsep brain storming inilah yang membuat saya jatuh cinta pada kedokteran UII, karena pada saat itu (tahun 2005), hanya kedokteran uii yang memberlakukan kurikulum problem based learning secara penuh. Dalam perjalanan saya menempuh pendidikan kedokteran di UII, tentunya ada fase ragu, ada fase lelah, ada fase bertanya: “Apakah ini jalan yang benar?”. Namun semua hal diatas sirna saat saya lulus S.Ked pada tahun 2009 dan resmi menyandang gelar dokter pada tahun 2012.
Profesi bukan tentang apa yang kita kerjakan setiap hari atau rutinitas apa yang rutin kita lakukan untuk menyambung hidup. Tapi tentang tanggung jawab apa yang kita miliki. menjadi seorang dokter di indonesia ini seperti pisau bermata dua, di satu sisi, orang indonesia masih memandang dokter sebagai profesi yg mulia,dan menempatkannya di strata sosial yang relatif tinggi. namun di sisi lain, profesi dokter dituntut untuk selalu sempurna, tanpa cela, dan terdepan utk disalahkan jika ada sesuatu yg kurang baik dalam sebuah pelayanan kesehatan yang seringkali bukan sepenuhnya tanggung jawab dokter. Realitas inilah yang membuat saya sadar bahwa menyandang sebuah gelar itu adalah tanggung jawab dunia akhirat. Di dunia kita akan dituntut untuk berkarya sebaik mungkin, di akhirat kita akan dituntut untuk menjelaskan apa saja yang sudah kita perbuat dengan gelar yang kita sandang untuk kemashlahatan umat.
Dunia tidak terlalu peduli dengan gelar kalian. Pasien saya tidak perduli bahwa saya adalah dokter orthopaedi onkologi ke 34 di indonesia, pasien saya juga tidak perduli bahwa saya sudah menempuh pendidikan selama 18 tahun untuk berada di posisi saat ini. Pasien saya hanya perduli pada apa yang bisa saya lakukan untuk mengobati kankernya. Keluarga pasien hanya perduli tentang apa yang bisa saya bantu meringankan beban hidup anggota keluarganya. Pasien dan keluarga pasien saya hanya peduli tentang bagaimana saya bisa menemukan solusi dan menentukan rencana terapi demi kesembuhan kanker tulangnya. Dunia peduli pada:
- Apa yang bisa kalian lakukan?
- Siapa yang bisa kalian bantu?
- Bagaimana kalian tetap berdiri saat sesuatu tidak berjalan sesuai rencana?
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 216: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu”. Ayat ini mengajarakan kita untuk selalu berprasangka baik atas ketetapan Allah. Kadang kita harus kehilangan sesuatu untuk menyelamatkan hal yang lebih besar. Untuk lebih memaknai ayat ini,ijinkan saya bercerita tentang pasien saya.
Pasien saya anak perempuan usia 12 tahun saat didiagnosis dengan osteosarcoma tumor ganas tulang lutut kiri. Hidup anak perempuan penggemar badminton ini berubah saat diagnosa ditetapkan oleh kami dan tumor harus diangkat dengan mengorbankan fungsi lutut kirinya. Setelah operasi pengangkatan tumor, lutut kiri anak ini tidak bisa ditekuk dan akan selalu berada dalam posisi lurus. Pada tahun pertama, pasien saya dan keluarganya masih sulit untuk menerima dan masih berusaha mencerna kenyataan hidup yang terjadi. Namun semangat juang anak ini tidak redup, Dia masih menekuni hobinya bermain badminton dan bisa lolos dalam seleksi nasional paralympic untuk cabang olahraga badminton, dan meraih medali perak pada ajang ASIAN Youth Para Games 2025 di dubai, 3 tahun setelah didiagnosa tumor ganas tulang. Dari pasien saya, saya belajar tentang makna dari ayat diatas, bahwa mungkin saja jika tidak didiagnosa menderita kanker tulang, bermain badminton mewakili Indonesia dan meraih medali perunggu di ajang internasional tidak pernah menjadi impiannya. Namun dia memilih untuk berjuang dengan takdir yang dihadapinya dan menjadi pemenang.
Sebagai penutup, saya berpesan:
- Jangan takut memulai dari nol bahkan dari minus. karena seperti panah, untuk dapat melesat maju dengan kencang dan mencapai sasaran dengan tepat, busur harus ditarik mundur.
- Jangan hanya mengejar sukses kejarlah makna. karena sukses itu apa yang orang lihat, sedangkan makna itu adalah apa yang anda rasakan. Manusia tidak runtuh karena kesulitan,manusia runtuh karena kehilangan makna dalam setiap langkahnya.
- Rawat empati kalian. empati itu seperti pisau – kalau tidak diasah, akan tumpul. dan ketika tumpul, kita tetap bisa bekerja, tapi kita tidak lagi benar-benar memberi dampak bagi kehidupan orang lain.
Hari ini bukan garis finish. Hari Ini adalah titik start. Jadilah seseorang yang kehadirannya membuat hidup orang lain menjadi lebih baik. karena pada akhirnya, dunia tidak hanya butuh orang yang pintar dan berhasil. Dunia butuh orang-orang pintar dan perduli pada orang lain dan dunia disekitarnya.
*diringkas dan diambil dari naskah sambutan alumni, saat pelaksanaan wisuda UII, Minggu, 26 April 2026*




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!